Video Clip Grunge Harga Mati, tiket awal menuju Planetrox.
Cerita kepergian CUPUMANIK ke Kanada di festival Envol Et Macadam bermula dari kabar mengejutkan dari manajer Cupumanik, Reza Pahlevy. Saat itu Cupumanik dalam rangkaian tour GRUNGE GODS di kota Bekasi pada tanggal 5 Juni 2011. Tepat sebelum manggung, dalam suasana bising , Reza Bilang: “Guys, gue diam-diam ngasih profile band dan video clip Grunge Harga Mati ke panitia festival Planetrox di Kanada, kita masuk 10 besar semi finalis dari Indonesia dan Kabar selanjutnya kita masuk semi finalis band dari Indonesia yang akan ngebuka Incubus di Jakarta”.
Mendengar reaksi dan jawaban dari personil Cupumanik, Reza langsung bilang: “Gue kecewa, inisiatif gue ga berjalan di Band ini, gue keluar, ini acara terakhir gue di Grunge Gods”, ya tidak ada satupun personil yang mengatakan setuju untuk meneruskan inisiatif manajer, hampir bulat satu suara, Cupumanik bukan band yang tumbuh dan meletakan puncak karir musik mereka dengan berpetualang mencari prestasi kemenangan dalam Festival, kabar dari Reza ditolak saat itu, suasana kisruh, Dony drummer Cupumanik yang paling bersitegang dengan Reza saat menjelang manggung malam itu.
Sepulang dari acara GRUNGE GODS tour di kota Bekasi, kami diskusi singkat di mobil, menimbang baik-buruknya dan apakah perdebatan yang baru saja terjadi merupakan obrolan yang tepat atau tidak. Di pertengahan bulan Juni voting publik sudah berjalan, kami membuka situs www.envoletmacadam.com dan di situ ada pilihan “Finalist” dari 15 negara. Setiap Negara hanya akan di berangkatkan satu band dari 10 Finalis, lalu akan ada malam final nasional di tiap Negara, Voting publik dari Internet untuk memilih 10 band nasional menjadi 5 band ke Final. Sejujurnya CUPUMANIK tertinggal dalam perolehan suara voting publik, karena sedikitpun kami belum melakukan kampanye di jejaring sosial.
Saat suasana mulai reda dari ketegangan, kami berkumpul merumuskan strategi untuk mengkampanyekan voting publik, akhirnya kami satu suara untuk ambil bagian dalam ajang festival Alternative Internasional di Kanada, Lalu ajang untuk membuka Incubus, akhirnya kami mundur karena kebetulan acara Finalnya bentrok dengan acara GRUNGE GODS TOUR pada tanggal 11 Juni 2011 di Bogor. Kampanye pertama untuk meraih dukungan voting publik Planetrox Canada kami umumkan di acara Grunge Gods Tour kota ke dua di Bogor, lalu memanfaatkan Twitter dan Facebook. Meski sempat tertinggal jauh dari semi finalis band lain, perolehan voting untuk Cupumanik menjadi sengit saling susul-menyusul dengan band lain dari Indonesia.
Situs resmi Planetrox/ Envol Et Macadam pada akhir Juni mengumumkan 5 besar Band dari Indonesia yang akan menuju ke Final, Malam tanding Final akan digelar pada tanggal 17 Juli 2011, Heaven Record sebagai penyelenggara acara yang di tunjuk Envol Et Macadam di Indonesia juga mulai aktif mengkampanyekan Festival ini. Dan dalam proses Voting Publik menuju Final, Cupumanik memperoleh suara tertinggi. Melalui press release ini, kami ingin menyampaikan terimakasih untuk publik, fans dan terutama media online yang sudah ikut mempromosikan dan mengabarkan bahwa CUPUMANIK ikut ambil bagian dalam ajang ini, dan karena berita yang mereka tulis, ini semakin menggelembungkan dukungan voting untuk Cupumanik.
Tepat saat Che vokalis Cupumanik merayakan hari Ulang tahunnya di kediamannya, pada tanggal 30 Juni 2011, semua personil dan termasuk Reza, bahkan Eko HC ex manager Cupumanik saat itu ikut merumuskan strategi, karena Cupumanik akhirnya masuk sebagai finalis dalam ajang Planetrox Festival yang akan bertanding dengan 4 Band lain dari Indonesia.
Perjuangan belum berhenti, situs resmi Planetrox menyampaikan peraturan dan sistem penilaian yang akan berlaku nanti di Final Nasional yaitu, masih adanya sistem Voting sebagai bentuk penilaian yang mempengaruhi kemenangan di Final, penonton yang hadir ke Final melalui sobekan kertas tiket bisa menyumbangkan suara untuk band pilihan-nya, Maka Cupumanik mulai memikirkan imbalan atau iming-iming sebagai pemikat agar Cupumaniak (Fans Cupumanik) atau publik mau hadir ke Final dan menyumbangkan suaranya. Cupumanik mulai memproduksi Poster bahkan mencetak CD Audio yang berisi 2 single baru yaitu Grunge Harga Mati dan Luka Bernegara untuk di berikan kepada Fans atau pembeli tiket malam Final.
Dikie, pemilik distro Rockmen yang juga mantan manager Cupumanik mengatakan dalam pesannya di Group BlackBerry Cupumanik: “Gimana persiapan ke Final, gue rasa Kalian perlu bikin gimmick di Bandung, biar makin banyak orang yang bersedia hadir ke Malam Final, harus di manfaatkan nih, beruntung acaranya di Bandung”, ya Final memang di gelar di café Fame Station, dan basis massa Cupumanik dominan ada di Bandung karena band ini lahir dan besar di Bandung. Dan tanggal 16 Juli sebelum Cupumanik main di Final, kami di Undang main di kampus Unjani Cimahi dalam acara The Grunge Revival, kami berhasil menggiring massa di sana untuk hadir ke malam Final esok harinya.
Malam Final Nasional Planetrox 17 Juli 2011
Reza menanyakan kepada penyelenggara Final Planetrox yaitu Pandji dari Heaven Record, siapa saja nanti Juri yang akan menilai pertandingan?, dan Pandji menjelaskan akan ada 3 Juri yang akan menilai selain voting dari penonton yang hadir nanti, yaitu Takeshi sengaja di tunjuk oleh Planetrox, juri yang di datangkan dari Jepang dan seorang promotor pertunjukan asal Jepang. Yang kedua Maruli seorang pelaku dan penggerak skena musik di Bandung, terakhir Pandji sendiri dari Heaven Record.
Acara malam Final di mulai jam 7 malam, semua band dengan perwakilan-nya wajib ke panggung untuk mengambil undian urutan tampil, dan melalui tangan Eski gitaris Cupumanik, kami tampil terakhir yaitu urutan ke 5, saat Eski menuju panggung, Dony sambil pemanasan dengan Stick Drumnya, dia bicara ke Che: “Che, gila yah, baru kali ini gue mau manggung tegang ga jelas, ikut-ikutan Festival kaya gini, terakhir buat gue”, Che tertawa, dan karena sadar Cupumanik main terakhir, kami keluar gedung untuk mengikis ketegangan, karena Cupumaniak mulai berdatangan, kami menyibuk-kan diri berkumpul di Luar, berusaha meyakinkan pada diri sendiri bahwa ini pertunjukkan seperti biasanya dan bukan pertandingan.
Tepat jam 9, Kami tampil, dan Che berkata di atas panggung sebelum lagu pertama di mainkan: “kami tidak merasa ini pertandingan, kami bermain malam ini untuk kalian yang sudah hadir, menang atau kalah, siapapun wakil yang berangkat, harumkan musik Indonesia di Kanada”, intro lagu MEREKA YANG TERPILIH di mainkan, crowd mengganas tidak berhenti ikut berteriak. Di lagu ke dua, Che mewakili Cupumanik sebelum lagu GRUNGE HARGA MATI di muntahkan malam itu, menyapa Juri dengan mengatakan, “selamat malam para Juri, ini adalah lagu terakhir, lagu ini adalah ekspresi musikal Cupumanik, enjoy with our dirty music”, saat intro di mainkan Crowd tidak berhenti mengepalkan tangan ke udara, pemandangan yang selalu hampir terjadi setiap kali nomor GRUNGE HARGA MATI di mainkan.
Jam 10 malam, Panji dari Heaven Record mengumumkan hasil penilaian, dia berkata: “kita di ruangan ini mungkin sudah tau, voting terbesar dari penonton adalah milik Cupumanik, tapi jangan bersenang dulu, keputusan mutlak ada di tangan Juri, sebelum saya umumkan pemenang, mari kita liat di layar monitor café ini, bagaimana suasana pagelaran Envol Et Macadam tahun lalu”, semua penonton dan band peserta selama 1 menit menyaksikan video itu, setelah selesai, Pandji membacakan hasil penilaian dan keputusan juri dengan mengatakan.
Pandji membacakan hasil penilaian dan keputusan juri dengan mengatakan: “dengan ini kami dengan bangga akan mengirimkan band CUPUMANIK ke festival Envol Et Macadam sebagai wakil band dari Indonesia!!!”. Suara Cupumaniak mendominasi teriakan kegembiraan malam itu, MC/host acara malam itu mengambil alih acara dengan mengatakan: “gimana kalo kita panggil lagi CUPUMANIK untuk memainkan 1 lagu lagi sebagai persembahan terakhir mala mini?”, Iyak bassist Cupumanik spontan yang lebih dulu ke panggung, lalu Eski, dony dan Che menyusul, lagu “Maha Rencana” dimainkan sebagai lagu kemenangan malam itu.
Persiapan menuju Canada
Akhir Juli 2011, Cupumanik menggenggam kemenangan, di pastikan akan main di Kanada, tapi bersiap untuk menembus lika-liku runyamnya birokrasi mengurus visa ke Canada, Panitia Festival Envol Et Macadam sudah intens mengirimkan email ke alamat email Cupumanik, bahwa mereka hanya akan mengirimkan tiket penerbangan setelah kami mengirimkan bukti visa Canada ke mereka, sesuai peraturan dan hadiah yang mereka janjikan, pengurusan Visa dan pembuatan passport tidak di tanggung biayanya oleh mereka. Termasuk uang saku kami selama di Canada nanti.
Di bulan Juli, Cupumanik di sibuk-kan dengan urusan kelengkapan surat dan dokumen untuk prasyarat visa Canada, Kami sampai dua kali di tolak karena dokumen yang belum lengkap, beruntung Panitia Envol Et Macadam di Canada mengirimkan surat sakti berupa Invitation Letter atas nama masing-masing personil. Proses sampai keluarnya Visa Canada ini menghabiskan waktu 3 Minggu, di bulan puasa awal Agustus akhirnya Visa ke Canada turun, dan setelah lebaran awal September Pandji perwakilan dari Heaven Record mengurus Tiket kepergian yang mereka janjikan.
Biaya yang sudah pasti kami tanggung sendiri adalah, pembuatan Visa Canada dan uang saku selama di sana, tabungan kami mulai bertambah, puji syukur job manggung padat di bulan Juli dan September, Cupumanik main di Java Rockinland hari terakhir 24 Juli, 11 September Grunge Gods Tour Bandung, mengasah aksi panggung di Rollingstone release party pada tanggal 23 september dan panggung terakhir sebelum ke Canada adalah acara Know your roots di Bogor pada tanggal 25 September 2011. Semua tabungan hasil manggung, kami tukar untuk biaya hidup di Kanada dalam bentuk mata uang dollar Canada dan Hongkong, karena sesuai jadwal penerbangan, kami akan transit di Hongkon 1 hari pada saat perjalanan pulang dari Kanada.
Perjalanan meninggalkan Indonesia Untuk Festival Internasional
Rabu 28 September 2011 adalah jadwal keberangkatan Cupumanik ke Kanada, sesuai Tiket yang sudah kami terima dari panitia. Rute perjalanan-nya adalah, dari Jakarta-Manila 4jam pesawat Philippine Airlines, Manila – Hongkong 2 jam Pesawat Philippine Airlines, Hongkong – Vancouver 12 jam pesawat Canada Air, Vancouver – Toronto 4 jam peswat Canada Air, dan Toronto – Quebec 1 ½ jam Pesawat Canada Air.
Ada kisah yang cukup sulit dilupakan sebenarnya saat proses kepergian Cupumanik ke Canada, dengan pesawat yang multi transit ini, Kami nyaris tidak sampai ke Kanada, Cupumanik nyaris saja pulang ke Indonesia tanpa membawa cerita yang berarti, bahkan insiden tersendatnya penerbangan ini nyaris menghapus misi Cupumanik untuk tampil di Envol Et Macadam Festival.
Kami sampai bandara pukul 10 malam, karena jadwal penerbangan kami menggunakan Philippine Airlines menuju Manila di jadwalkan berangkat jam 00:55, kami melakukan check in, memasukan bagasi dan semua alat musik, sampai jam 12 malam, Pandji dari Heaven Records belum juga muncul di Bandara Soekarno Hatta, Saat Check In, tiba-tiba ada kabar bahwa terjadi badai di Manila, petugas maskapai menyarankan kami untuk menaiki Makapai penerbangan lain yaitu dialihkan ke Cathay Pacific dari Jakarta langsung menuju ke Hongkong tanpa harus transit ke Manila. Kami tetap mempertimbangkan untuk menunggu Pandji, karena kami membayangkan segalanya akan sulit pergi tanpa Pandji, dia dan Heaven Records adalah rekanan penyelenggara Festival Envol Et Macadam yang di Tunjuk Kanada di Indonesia.
Pandji akhirnya hadir, dan fasilitas untuk pergi dengan Cathay Pacific batal, kabar gembiranya Philippine Airlines akan tetap mengantarkan kami ke Manila, pesawat delay, penerbangan baru akan berangkat jam 4.30 pagi ke Manila. Kami akhirnya harus menunggu di Bandara Soekarno –Hatta hampir lebih dari 4 jam. Akhirnya kami berangkat dari Jakarta Kamis dini hari, perjalanan ke Manila selama 4 jam, sesampai di Manila Airport jam 9 pagi, kami masuk ruang tunggu transit untuk menunggu jadwal penerbangan lanjutan ke Hongkong, insiden besar terjadi, di Manila terjadi Demo pekerja dan Buruh di bandara besar-besaran, kami mendapat kabar tidak ada penerbangan dengan Philippine Airlines ke Hongkong. Pandji berusaha negosiasi untuk bisa di temui dengan petugas Philippine Airlines, tapi tak ada satupun yang bisa di temui, kami menunggu hampir dua jam di Bandara, bahkan di ruang tunggu transit ada orang kulit hitam dan satu orang dari Jepang yang sudah 2 hari di ruang tunggu belum juga mendapat kabar penerbangan selajutnya, tanpa makan dan minum.
Che khawatir, mengatakan pada personil lain: “Gila, apa yang harus kita jelasin ke publik di Indonesia, kalo kita ga jadi berangkat nih”. Akhirnya petugas transit di Manila mengambil semua passport kita, ntah apa yang dilakukan, dia datang lagi dengan membawa surat rekomendasi, bahwa kita bisa diberangkatkan dengan pindah terminal sekaligus pesawat dengan Cathay Pacific, ternyata ada penerbangan hari itu ke Hongkong tapi baru berangkat pada malam hari. Sementara jadwal penerbangan Cupumanik dari Hongkong menuju Canada adalah jam 19:30 malam, kami nekad segera bergegas, akhirnya kami harus melewati imigrasi Manila, bongkar bagasi lagi lalu pindah terminal menggunakan fasilitas taxi gratis yang di berikan maskapai Philippine Airlines untuk menuju terminal lain, saat dalam perjalanan di Manila, pemandangan demo mendominasi suasana di jalanan, polisi menilang dan menghentikan kendaraan, ternyata kami dalam hati punya satu harapan yang sama, ingin segera pergi dari Negara yang sedang bergejolak itu.
Sampailah kita di Manila airport 2, lalu bergegas ingin segera menemui petugas penerbangan Cathay Pacific sambil mendorong trolley yang berisi koper dan alat-alat musik. Pandji maju untuk negosiasi, adakah penerbangan siang hari ke Hongkong, karena kita harus sampai di Hongkong sebelum jam 19:00, petugas check in Cathay Pacific bertanya kenapa orang dari Philippine Airlines tidak ada yang mendampingi kita untuk mengatur perpindahan pesawat, Pandji bilang, kita hanya di titipkan surat rekomendasi, suasana makin tegang, karena harapan tipis, Iyak bassist Cupumanik bilang: “Guys, jangan berhenti doa, please”, saat Pandji negosiasi dengan orang Cathay Pacific, di belakang dari kejauhan petugas lain berteriak: “Hey, ada 5 tempat duduk yang kosong untuk mereka siang ini”.
Tiba-tiba suasana jadi terang, detik itu juga kami langsung check in dan segera menukar mata uang Peso untuk membayar Airport tax, Kami berangkat dari Manila jam 13:20, sebelum sampai Hongkong dan baru saja duduk di pesawat Cathay Pacific, kami seperti sudah merasa ada di Canada, karena baru berhasil menembus suasana terburuk di Manila, dengan mendapat kursi pesawat menuju Hongkong kami sudah merasa lega, bahwa kami akan tetap tampil di Kanada membawa nama Indonesia. Tak ada satupun personil yang berkomentar, lelah dan tegang bercampur, kami tertidur pulas di pesawat dan jam 15:30 kita sudah sampai di Hongkong. Setelah drama menegangkan di Manila, praktis hampir tidak ada hambatan yang berarti, Hongkong – Vancouver, Vancouver – Toronto, dan Toronto –Quebec berjalan lancar dan selamat, kami sampai di Quebec city Canada Kamis 29 September 2011, jam 8:30 pagi waktu Kanada.
Cupumanik, Canadian tour 29 September – 2 October 2011
Praktis hampir semua up date berita perjalanan Cupumanik ke jejaring sosial adalah tugas Che, melalui BlackBerry dan iPhone, menyebarkan berita melalui Twitter dan Instagram. Sementara Eski bertugas merekam video perjalanan dengan camera Canon 550D. Sekitar jam 9 pagi kami di jemput oleh panitia Envol Et Macadam, mereka membawa dua mobil, karena Pandji berbeda tempat hotel dengan kami. Kami di sambut oleh sunyi senyapnya gerimis kota Quebec city, dengan cuaca 14 derajat. Che menyapa Driver bernama Gregory, “Apakah Planetrox acara festival besar di Quebec”, dan Greg menjawab: “bukan besar, ini festival terbesar di Quebec, saya sudah bekerja cukup lama dengan Envol Et Macadam”, lalu Che bertanya lagi: “apa nama Festival ini sebenarnya, planetrox atau Envol Et Macadam?”, Greg menjawab: “Semua orang menyebutnya Envol Et Macadam Festival, dan Penyelenggara bekerjasama dengan EO Planetrox, dia Partner utama festival ini”.
Lalu sambil melihat pemandangan sekitar bandara Quebec yang masih di dominasi pemandangan pohon Maple, Greg menjelaskan: “Saya baru menjemput orang Asia, selama Festival bertahun-tahun, saya suka musik, saya senang bekerja untuk Envol Et Macadam”. Iyak yang duduk di sebelah Greg, bertanya: “Kamu menikmati pertunjukan Festival ini?”, Greg menjelaskan: “ya tentu, sejujurnya saya belum pernah mendengar band bernama Rammstein, saat mereka tampil di Envol Et Macadam, saya menyukai band itu sekarang, penampilan nya sangat berkesan, sangat treatrikal”.
Perjalanan Dari Airport Quebec ke hotel tempat kami menginap di Best Western sekitar 20 Menit, masih di luar hotel saat mengeluarkan semua instrument dan koper, Che baru sadar ketinggalan tas kameranya, beruntung kameranya selalu di pegang Eski, Greg menyarankan untuk segera telepon ke Bandara melalui hotel. Tak Kamera itu cukup penting, karena batre cadangan dan 16 GB memory juga ada dalam tas itu. Setelah kami masuk kamar hotel di ruang 323 dan 324, Iyak segera menelepon Airport Quebec, dan sepertinya Tas itu sudah di amankan petugas Bandara. Che dan Iyak bergegas ke Bandara, orang Hotel mengingatkan kami bahwa ongkos sekali ke Bandara bisa menghabiskan 35 Dollar Canada, kami berangkat dan Ta situ ada semua lengkap, kami hanya harus mengisi no passport dan nama di sana, taxi yang kami tumpangi mau menunggu. Pelajaran pertama, untuk kami segalanya mahal di sana, pulang pergi ke bandara yang hanya 20 Menit menghabiskan uang Rp. 600.000.
Tidak terasa, sudah sore di Kanada, kami tertidur di kamar hotel, dan koordinasi dengan Pandji dari Heaven Records hanya mengandalkan via sms, sekitar jam 5 sore Che mendapatkan pesan dari Pandji: “Jangan Lupa, Festival hari pertama di mulai hari ini, kamis 29 September, kita ketemu di sana yah, di gedung Imperial De Quebec,, sekalian kita ambil ID PASS untuk Cupumanik”, Sore itu kami bersiap mandi dan mengisi perut hanya dengan makanan roti yang kami bawa dari Indonesia. Dan sekitar jam 18:30, sambil bawa peta yang kami print dari Google map, kami mencari gedung Imperial De Quebec, sempet tersasar, warga setempat memberi petunjuk dan sampailah kami. Kami mencari Pandji, dan akhirnya di antara kerumunan kami bertemu dengan teman-teman dari band Malaysia, yaitu Massacre Conspiracy, band MetalCore.
Festival hari pertama Kamis 29 Setember 2011
Kami sama-sama menuju ke dalam gedung Imperial De Quebec, club itu mengingatkan kami dengan gedung AACC di Braga Bandung, cuma memang lebih luas dan lebih mewah. Hari Pertama Festival Envol Et Macadam malam itu di dominasi band bergenre Molodic punk dan Metal Core. Hampir semua band yang main berasal dari Kanada. Saat kami masuk band Melodic bernama STEINBOCK sedang tampil, dan seseorang menyapa Iyak, dia adalah Simon, director dari Envol Et Macadam, dia bilang: “Selamat datang di Quebec, Selamat kalian memenangkan kompetisi untuk tampil di Kanada”, lalu Iyak menjawab: “Terimakasih, ternyata kamu mengenali kami”, Simon bilang: “Saya bertemu pandji di luar gedung, saya menanyakan kalian, lalu Pandji bilang, pasti kalian sangat mudah di kenali, kalian memakai pakaian winter”, Dia tertawa.
Ya, di luar suhu udara 9 derajat, dan memang benar adanya di ruangan itu kami terlihat seperti turis karena memakai pakaian winter super hangat, Band malam itu yang cukup berbeda dari kebanyakan band Melodic adalah TINY DANZA, Musik dan vokalisnya mengingatkan pada Maroon Five, tetapi dengan vokalis tambahan yang bertugas untuk nge-Rap. Che dan Eski berdiri tepat di sebelah Mixer operator panggung, kami semua takjub dengan kualitas sound yang bagus. Band berikutnya lagi-lagi band Melodic, bernama DANCE OVER ALL, mereka memiliki drummer yang enerjik. Kami keluar gedung dan menuju ruang Merchandise, banyak sekali cd Lokal yang dijual di sana, Che terlihat menanyakan harga dari Kaos official Merchandise Envol Et Macadam, mereka bilang satu kaos 10 Dollar Canada, dan kami mendapatkan kaos itu Gratis, karena mereka melihat ID PASS yang menggantung di leher bertuliskan “Artiste”, ternyata merchandise itu gratis khusus untuk band yang tampil di Festival.
Akhirnya kami keluar gedung, dan berkenalan dengan semua panitia Envol Et Macadam, kami tepat di pinggir jalan St. Joseph, Iyak berkenalan dengan seorang laki-laki, ternyata dia seorang Drummer, tapi band-nya tidak main di Envol Et Macadam. Iyak memberikan Rokok Kretek Dji Sam Soe, saat ingin di hisap, pacar dari lelaki itu menegur, “Hey apa ini”, pacarnya menyangka itu adalah ganja, lalu Iyak menjelaskan, bahwa itu jenis rokok Kretek. Si wanita menanyakan asal Negara kami, dia tidak tahu Indonesia, saat kami sebut Bali, dia berkomentar: “Ya aku tahu Bali, jika saya orang Kaya saya ingin ke sana”.
Malam itu, seorang jurnalis berkulit hitam bernama, Ramon menyapa, dia tim dokumentasi dari Envol Et Macadam, karena dia melihat ID yang kami pakai, dia mewawancarai singkat Cupumanik, interview singkat itu di rekam dengan Camera Videonya, dan dia bilang: “Berikan alamat emailmu, saya juga akan merekam penampilan kalian di hari terakhir, saya akan kirimkan dokumentasi videonya pada kalian”. Lalu seorang jurnalis wanita dari majalah Scope, ikut mengambil gambar Cupumanik saat itu, bahkan dia sempat mmembantu memperbaiki Camera Canon kami yang hampir tidak berfungsi malam itu. Kami pamit, Pandji juga ikut bersama kami untuk mencari makan, sudah jam 10:45 malam kami belum juga makan, masih satu blok di jalan St. Joseph, kami makan di restoran cepat saji bernama Ashton.
Festival Hari ke dua Jumat 30 September 2011
Che dan Eski ada dalam satu ruangan di kamar 324, sementara Iyak dan Dony di ruangan 323 di hotel Best Western. Channel TV yang hampir selalu menyala di ruang kamar adalah Channel MusiquePlus. MusiquePlus sebagai Media partner Envol Et Macadam di jadikan nama panggung di mainstage dengan nama MusicPlus Scene , berdampingan dengan panggung Exo/Premier Ovation scene. Dua panggung itu adalah Main stage, panggung-panggung lain yang lebih kecil adalah bernama Le Cerle, Le Scanner, Port of Quebec Agora dan Park of Univercite du Quebec.
Pagi hari sekitar jam 7 pagi kami sudah keluar hotel, hari ini mood dan niat kami adalah jalan-jalan seperti orang yang sedang berlibur, belanja oleh-oleh dan makan, karena Festival Envol Et Macadam di hari ke dua baru mulai jam 19:00. Hotel kami berada di jalan Corone, daerah yang di tuju adalah Old City Quebec, sebelum kami ke Canada, kami sudah browshing, bahwa Old City Quebec adalah tempat wajib yang harus di datangi. Kami Jalan kaki berempat tanpa Pandji menuju Old City, Kota yang hampir terlihat sebagai kota sunyi sepanjang hari itu ternyata berbeda jika di pagi hari, semua orang Nampak sibuk, keluar rumah untuk bekerja.
Karena kami hanya jalan berempat, cukup sulit mengambil gambar foto dengan objek kami lengkap berempat, untung warga Quebec ramah dan selalu bersedia saat dimintai tolong untuk mengambil gambar kami. Old City Quebec itu terletak di atas jalan Corone tempat hotel kami menginap, kami harus jalan menanjak, dan sesampainya di Old City, kami takjub dengan desain kota yang di biarkan tua, Quebec punya banyak danau yang membuat kota itu nyaman dan indah. Poster acara Envol Et Macadam tertempel di mana-mana, bahkan terpasang di reklame kota dengan ukuran raksasa, dengan tulisan: : “PlanetRox A WorldWide Music Competition For Alternative Band, From 15 Coutries: CANADA, THE UNITED STATES, ENGLAND, FRANCE, BELGIUM, GERMANY, MOROCCO, IRELAND, ITALY, SPAIN, JAPAN, CHINA, MALAYSIA, INDONESIA AND SOUTH KOREA”. Setiap saat melihat reklame dan iklan ini di TV, kami semakin sadar, kehadiran CUPUMANIK di Kanada dalam rangka membawa nama Indonesia.
Tidak terasa, hari mulai sore, dan Dony meminta agar kita melihat sebentar ke venue, tempat Cupumanik akan tampil esok harinya, Kami senang dan sebenarnya khawatir juga, karena Cupumanik berkesempatan tampil di mainstage dan di hari penutupan acara tanggal 1 Oktober 2011. Akhirnya kami menuju Venue sore itu, Panggung kami berada di bawah jalan tol bernama Highway 404, di jalan raya Parc de l’Ilot Charest Boulevard. Saat kami mendekat ke Venue, Beberapa band sedang melakukan check sound, Sore itu mulai gerimis, kami bergegas pulang ke Hotel, Dony dan Iyak masih ingin pergi ke toko musik, ada alat yang mereka incar dan kabarnya lebih murah harganya denga kurs uang Kanada. Sesampai di Hotel, Che dan Eski segera mentransfer file dari Kamera ke Laptop agar semua file tersimpan dengan selamat, di kamar kami ada fasilitas wi fi, che dan Eski segera memposting kabar perjalanan Cupumanik ke Jejaring sosial.
Che tidur sore hari itu, Eski asik chatting di YM dan Facebook, Iyak dan Dony juga tertidur di kamar 323. Jam 19:00 Che dan Eski masih di ruangan kamar dan sibuk memperbanyak CD band profile untuk di bagikan ke siapapun di burn dengan Laptop, tidak terasa sudah jam 20:30 kami masih di kamar Hotel, Eski membukakan pintu karena ada orang di luar kamar yang membunyikan bell, Ternyata cuma orang yang salah kamar, Che mendengar perbincangan Eski dengan Tamu di luar kamar, ternyata Che mengenali mereka, orang mengetuk kamar kami adalah Vokalis dan pemain gitar dari band The Secret Cinema, band beraliran Experimental indie rock asal Inggris, Che mengenali mereka dan menyapa: “Hey, saya tau Kalian, Kamu adalah Vokalis The Secret Cinema dari Inggris kan?”, sang vokalis Nampak senang karena Che mengenali dirinya, Lalu suasana menajdi cair, Laurent vokalis berkulit Hitam mengatakan pada Che: “Ow, kamu pasti juga tampil di Festival Envol, kamu main juga hari ini?” Laurent melihat kami berdua memakai Wristband yang melingkar di tangan kami, Che menjawab: “Kami main di acara penutup besok, bukankah kalian main hari ini?”, gitarisnya bernama Bojan menjawab: “Ya kami baru saja main”, Che menjawab: “wah sayang kami tidak sempat melihat kalian tampil, kami baru saja akan pergi ke Festival, oh ya tunggu, kami punya band profile dan poster untuk kalian”. Akhirnya di lorong kamar hotel kami bertukar kartu nama, mereka sempat menanyakan arti Cupumanik.
Che dan eski bergegas untuk datang ke Festival, dan band Rise Against sedang menghantam crowd Quebec malam itu sekitar jam 21.30, Ribuan orang mengepalkan tangan ke udara dan bernyanyi sepanjang mereka tampil. Band pemenang kompetisi Planetrox yang tampil di hari ke dua adalah, The New Up dari Amerika, The Secret Cinema dari Inggris, Noughts and Exes dari China dan Javo Island dari Korea Selatan. Cuaca semakin dingin, hari ke dua Festival mendekati 8 Derajat malam itu, kami segera pulang ke Hotel, agar besok cukup tidur dan menyimpan tenaga yang cukup.
Hari terakhir Festival, Sabtu 1 Oktober 2011.
Hari terakhir di Kanada, iyak dan Eski sejak pagi sudah pergi dari hotel, mereka masih memburu oleh-oleh dan masih belum puas melihat pemandangan kota, dony sejak pagi sudah memainkan Laptop di kamar Eski 324, sementara Che masih tertidur. Semua personil sepertinya cukup siap untuk tampil hari ini di panggung utama, kecuali Che, sejak pagi dia sibuk mengurusi jalur kabel untuk menurunkan voltase listrik Efek Gitarnya, berhubung voltase di Kanada adalah 110 volt sementara di Indonesia 220 Volt, Senar gitar baru sudah sejak malam terpasang. Dony pagi itu bertanya ke Che: “Lo ga jalan-jalan Che, oleh-oleh buat orang rumah udah kebeli?”, Che menjawab: “Hari ini mood dan fokus gue cuma manggung Don, terus gue biasa di urus crew, hari ini gue harus set efek, amply sendirian dan jalur kabel untuk nurunin voltase”. Sementara Che di kamar menyiapkan instrument, Dony pergi menyusul Iyak dan Eski.
Siang hari jam 13.00 Festival dimulai, hari terakhir penutupan Festival dimulai lebih awal. Dan jam 11 siang Eski, Iyak dan Dony sudah berkumpul di kamar menyiapkan segalanya. Che mengingatkan semua personil, bahwa di hari penutupan Festival, cuma ada band-band Metal, Punk, melodic dan Hardcore, kami memutuskan untuk memilih setlist lagu keras dan tempo cepat, Headliner band di hari terakhir adalah: As I Lay Dying, Blood for Blood dan The Exploited. Cupumanik bahkan berbagi panggung dengan band besar Kanada yaitu Protest The Hero, band progressive Metal yang sudah tour dunia, mereka Tampil jam 14:15 tepat sebelum kami mengambil alih panggung jam 15:00.
Masih di kamar Hotel, kami menyusun setlist, bahkan kami sudah menyiapkan aransemen intro yang berharap bisa memancing crowd untuk datang mendekati panggung kami. Setelah segalanya siap, Iyak memimpin doa di kamar, dengan mengatakan: “Adalah hal yang menyenangkan bisa punya pengalaman pergi ke luar negeri, tapi ada satu hal yang harus di ingat, bahwa hal terbaik di atas segalanya adalah punya teman berbagi, dan guys, gue merasa bangga sekaligus terhormat bisa mendapatkan kesempatan untuk berbagi moment ini bersama kalian”. Lalu Che menambahkan: “Gue ga pernah se percaya diri ini menjelang manggung, semenjak ngeliat band-band Kanada tampil, gue Yakin kita akan memancing perhatian, band kita beda genre sama mereka, gue berharap kita bisa main se enjoy mungkin”, Eski dan Dony tidak banyak bicara saat itu, yang sama-sama kita sadari adalah, saat itu kami di Kanada bukan sekedar membawa nama Band bernama Cupumanik, tapi Festival Internasional itu melibatkan nama Negara, ya kami sadar Kami membawa nama Indonesia.
Mengejutkan, cuaca hari itu sampai 4 derajat Celcius, Iyak dan Dony menyerah untuk tidak memakai celana pendek, Eski dan Che tetap memakai celana pendek Army seperti biasanya, lengkap dengan Longjohn extra warm. Tergeletak di atas kasur Che kaos yang sengaja ingin di pamerkan pada crowd Festival, yaitu kaos hitam bertuliskan “GRUNGE HARGA MATI”. Kami sama-sama turun dan keluar dari hotel berjalan kaki, karena venue cuma 3 blok dari hotel kami. Yang kami pikirkan adalah makan sebelum manggung, di dekat venue ada restoran cepat saji bernama Ashton yang juga restoran Partners dari Envol Et Macadam. Pandji dari Heaven Record sudah menunggu di resoran, kami makan bersama dan saat itu Pandji bertugas merekam penampilan Cupumanik dengan kamera.
Cupumanik menumpahkan musik kotor di Envol Et Macadam
Jam 14:30 kami sampai di belakang panggung MusiquePlus Scene, Protest The Hero sedang membakar Ratusan Metalhead saat itu. Saat mereka nyaris menyesesaikan lagu terakhir kami sudah mulai set alat, Full Set Drum merk Pearl, khusus untuk Cupumanik sudah ada lengkap di belakang panggung, Eski dan Che terkejut saat di belakang berbagai pilihan merk Amply guitar berderet seperti toko musik yang siap dipakai. Che dan Eski memilih amply Guitar Marshall, sementara Iyak memilih Amply Bass merk Ampeg sesuai raiders yang di ajukan Cupumanik. Pada panitia Envol Et Macadam.
Panggung outdoor mainstage festival Envol Et Macadam adalah di bawah jalan tol, bernama Highway 404, di jalan raya Parc de l’Ilot Charest Boulevard. Di area itu terdapat 2 panggung besar, yaitu Panggung Musiqueplus scene dan panggung exo/ Premiere Ovation Scene, Saat Protest The Hero selesai tampil, panggung Exo sudah siap tambil band Punk Melodic dari Italy yaitu Rumatera, Mereka terdengar mulai memainkan intro, dan saat lagu pertama mereka mainkan, Cupumanik mulai set di panggung utama, amply gitar dan bass mulai di dorong ke depan panggung, Dony yang paling sibuk saat itu karena harus set posisi drum sendirian, ada sekitar 20 menit waktu untuk merampungkan semua set instrument Cupumanik.
Ratusan crowd setelah menyaksikan Protest The Hero, mereka berbondong-bondong berjalan 35 meter menuju panggung Exo Scene untuk menyaksikan Rumatera band dari Italy, kekhawatiran kami muncul, akankah mereka mau kembali melihat Cupumanik?, sementara Kami memainkan 4 lagu dengan bahasa Indonesia. Dan Cupumanik adalah Band Asia yang pertama kali tampil di hari penutupan Festival. Saat menunggu Rumatera selesai tampil, para personil Massacre Conspiracy dari Malaysia mendekati kami ke bibir panggung, vokalisnya berkata pada Che: “Sejuk sekali udara hari ini ya, tangan kami beku”, dan mereka sudah siap dengan kamera mereka untuk merekam penampilan Cupumanik. Ya betul, Tegang dan cuaca dingin menyatu membekukan tangan kami sebelum tampil.
Pandji, teriak mengingatkan kami untuk bersiap-siap tampil, karena dalam hitungan detik di panggung Exo Scene Rumatera akan selesai tampil. Eski memainkan Intro yang kontemplatif, gelap dan membius, Che mulai melirik ke depan panggung, dan ratusan orang penggemar Punk, Hardcore dan Metal mulai berbondong-bondong mendekati panggung, Dony mulai menghentak drum pelan-pelan, Che berteriak: “we are from Indonesia, we play our music with our Language, we believe music is a universal language, this is our first song, Canada!!”, Dony mulai memukul drum dengan agresif dan kasar, dan ya sudah bisa di pastikan, crowd di Festival Envol Et Macadam Quebec City Kanada sekarang milik Cupumanik.
Lagu “Mereka Yang Terpilih”, di semburkan pertama kali, sebagian crowds berteriak, “Arigato, Arigato”, mereka menyangka kami band dari Jepang, Mungkin kami satu-satunya band di Festival hari itu yang memainkan musik Grunge, wajah-wajah Crowd dengan mata tajam mengamati dan menggoyangkan kepala, sebagian terlihat sambil memegang minuman penghangat tubuh, sambil merokok, semua manusia di area itu di selimuti udara dingin 4 derajat Celcius. Para jurnalis mulai berdatangan ke bibir panggung siap merekam jejak penampilan Cupumanik. Sebelum lagu kedua, di mainkan, che menyapa Crowds dan berkata: “We almost , forgot, that we’re here to perform, because you have this beautiful city and friendly people, we feel like we’re on Holiday, Seriously. Quebec is one of the most beautiful city we’ve ever seen”, crowds memberikan sambutan tepuk tangan, lalu lagu ‘Maha Rencana” berkumandang di Envol Et Macadam, mungkin di lagu ini, Dony mendapat sambutan paling luar biasa, banyak mata tertuju pada permainan Dony yang liar dan pamer kemampuan bermain drum, Lagu Maha Rencana memang menyimpan banyak part solo Drum yang detail dan rumit.
Lagu ketiga “Grunge Harga Mati” di muntahkan Cupumanik, Che dengan ekspresi wajah bersemangat, mengatakan sebelum lagu di mainkan: “This song is about how we express the music we like, we will forever play Grunge, with this song we declare who we are, enjoy our dirty music, Canada!!!” Sejak intro solo drum di mainkan penonton berteriak, dan saat distorsi menghantam penonton mengangkat tangan ke udara, bisa jadi “Grunge Harga Mati” paling berhasil memancing emosi dan apresiasi penonton saat itu. Tanpa kami sadari, band dari Jepang St. Claire yang akan tampil setelah Cupumanik di panggung yang sama, sudah terlihat di atas panggung, mereka menyaksikan ritual rock kotor yang sedang di semburkan sore itu.
Sebelum lagu terakhir di mainkan, Che mewakili Cupumanik mengucapkan kata perpisahan dan mengungkapkan terimakasih untuk Festival Envol Et Macadam, : “After we won a competition back home, we’re finally here to perform in this awesome festival, we hope we’ll have the opportunity to come back here. This last song is specially for you, see you and thank you!!”, lagu “Luka Bernegara” di mainkan, dan penonton masih terbawa suasana panas saat “Grunge Harga Mati” yang sebelumnya dimainkan, suasana saling transfer soul dan keintiman kami rasakan sampai ke atas panggung yang di berikan crowd hari itu. Di akhir lagu, Iyak berteriak lantang menggunakan bahasa Perancis, “Mercy Canada!!!, Aurevoir!!!, Mercy!!!”.
Kami bergegas segera menuju belakang panggung, di belakang sudah ada Pasukan Band punk Melodic Jepang “St. Claire” lengkap dengan Kimono mereka sudah set Alat mereka seperti yang di lakukan Cupumanik sebelumnya, kami tahu mereka sibuk mengurus instrumen mereka, dan mungkin karena mereka satu rumpun asia dengan kita, mereka menyapa kami dengan senyuman, dan vokalis mereka mengatakan, “Nice Perform Guys”. Kami terkejut, melihat Iyak sambil membereskan peralatan-nya ada dua wanita dan satu orang lelaki menghampirinya, dan dengan wajah antusias mengucapkan selamat atas penampilan Cupumanik, Iyak memberikan Band Profile Cupumanik pada mereka, ternyata mereka adalah para personil “Carolyne”, band Metal asal Spanyol yang juga akan tampil setelah St. Claire. Personil band dari Malaysia menghampiri kami ke belakang panggung, salah satu gitaris mereka yang merekam video penampilan Cupumanik berkata: “wow, tadi kalian main bagus sekali”, kami mengucapkan terimakasih pada mereka. Yang mengejutkan, dua personil dari Band Canada bernama “Another Fallen Hero” menghampiri Che dan Eski yang masih menenteng gitar, gitarisnya berkata: “wow saya suka sekali Grunge, saya mendengarkan Soundgarden atau Pearl Jam, kalian memainkan musik seperti mereka”, kami berfoto bersama dengan mereka, dan mereka ikut memegang bendera Indonesia saat itu.
Iyak dan Dony tidak tahan lama di venue, karena dingin yang terus menyerang, mereka ingin segera ke Hotel untuk menghangatkan tubuh dan segera menyelamatkan instrumen, tapi mereka akan kembali, sementara Che dan Eski di temani Pandji dari Heaven Record masih di belakang panggung, band Hip Hop dari Morocco “Bow Kow” terlihat baru datang, kami berkenalan dan saling tukar Cd profile band. Tepat setelah Cupumanik tampil, di panggung Exo Scene, band dari Perancis “X-SYNDICATE menghajar Crowd Envol Et Macadam dengan musik pure Punk mereka, semua personilnya wanita. Dan band Malaysia bersiap untuk tampil di panggung Exo, Che sendiri yang merekam penampilan Band Dari Malaysia, kami menyaksikan Massacre Conspiracy bersama dengan personil “Another Fallen Hero”, mereka memuji vokalis band dari Malaysia, dan benar adanya, jelajah nada dan ragam growl sanggup di muntahkan dengan sangat baik, mereka adalah band MetalCore.
Che dan Eski yang berpamitan segera pulang ke hotel untuk menghangatkan Tubuh dan menyelamatkan instrumen, Dony dan Iyak sudah kembali dari Hotel. Mereka menyaksikan Salah satu Headliner hari itu, band Hardcore dari Boston Amerika yaitu “Blood For Blood”, crowd Kanada menunggu mereka, kami menyadari band ini sangat besar, mereka antusias menunggu band ini, Dony berpendapat: “kami terkesan akan penampilan Blood for Blood, dan yang menarik adalah jarang sekali saya melihat sebuah acara rRock/metal soundnya balance tidak memekakkan telinga dan membuat betah untuk menyaksikkannya, dan disini semua penonton apresiatif sekali tidak peduli genre apapun yang di bawakan para performer”. Dan Eskipun sangat berkesan atas penampilan Cupumanik hari itu, katanya: “saat itu kami tidak melakukan sound check, sound yang kami dapatkan adalah sound jadi yang sempurna, tidak mengharuskan kami untuk rewel meminta penambahan frekwensi disudut manapun, ketika mata kami mulai melihat ke salah satu instrument yang kurang sempurna, tanpa harus dikomando, frekwensi dari instrumen yang terasa kurang pun langsung muncul dan terdengar sempurna, sungguh pelayanan yang sangat memudahkan, pekerjaan yang professional. Ini adalah pelajaran serta pengalaman musikal yang sangat berharga bagi kami.”
Kami sama –sama menyaksikan, Dynamo, band dari Irlandia, lalu disusul oleh Corelyn dari Spanyol. Bow Kow dari Morocco adalah band perwakilan Negara yang memaikan musik Hip Hop malam itu, Band dari German mengambil alih panggung, mereka memainkan Punk Melodic bernama Jolly Roger. Kami tidak sabar ingin menyaksikan The Exploited, Crowd Punk Quebec berbondong-bondong masuk, dan saat backdrop panggung di pasang dengan icon logo Tengkorak Mohawk, crowd mulai berteriak massal, Wattie Buchan sang vokalis muncul dengan rambut Mohawk merahnya yang berkali-kali memukul kepalanya sendiri dengan mic, Crowd mengganas, saat lagu pertama di mainkan, kami kaget, tidak pernah crowd membuat lingkaran besar sebagai medan laga untuk moshing dan menumpahkan ekspresi crowd, kami pikir selama Festival, crowd terganas adalah milik The Exploited. Kami sudah harus mencari makan dan siap-siap bergegas untuk mengepak, karena jam 2 dini hari waktu Canada kami harus pergi dari hotel menuju bandara, penerbangan kami dari Airport Quebec adalah jam 4:30. Ya kami merelakan untuk tidak melihat penampilan “As I Lay Dying” malam itu.
Perjalanan Pulang ke Indonesia, Minggu 2 Oktober 2011.
Jam 2 subuh kami masih ada di Best Western Hotel, mungkin beberapa hari terakhir hotel itu Nampak seperti sekolah musik ketimbang tempat menginap, karena hampir semua band pegisi acara tinggal di sana, bahkan The Exploited menginap di sana. Kami sudah berkumpul di Lobby untuk memesan taxi menuju bandara Quebec, Pandji dari Heaven Record beda hotel dengan kami, akan menyusul ke bandara. Kami Meninggalkan hotel, dan di dalam taxi kami melihat kota Quebec yang sunyi, dingin yang terus menyelimuti kota itu Nampak makin misterius. Kami lebih dulu sampai ke Bandara, sambil menunggu Padji datang, kami bertemu lagi dengan personil The Secret Cinema band dari Inggris, lalu kami berfoto bersama, tidak lama gerombolan band dari German datang yaitu Jolly Rogers kami juga berfoto bersama dengan mereka. Pandji datang dan segera melakukan Check in, subuh itu kami akan melanjutkan penerbangan menuju, Toronto, lalu ke Vancouver, di lanjutkan Ke Hongkong.
Di Negara Hongkong kami tinggal satu hari dan sempat jalan-jalan keluar bandara dan menginap di hotel daerah Nathan Road, tanggal 4 Oktober kami melanjutkan perjalanan pesawat ke Philippine, kami bermalam di Manila airport untuk melanjutkan penerbangan esok harinya ke Singapore. Di Negara tetangga itu kami hanya transit beberapa jam dan melanjutkan penerbangan ke Jakarta. Sesampainya di Bandara Soekarno Hatta, eski merekam wajah-wajah senang dan lelah kami dengan Kamera video, ketika mendarat dan menuju imigrasi, Eski mewawancarai Che dengan kamera Video, Eski bertanya: “Gimana Che kesan lo atas perjalanan ini?”, Che menjawab: “Lo inget Ki, band ini cuma 3 kali manggung pake pesawat, yang pertama yahun 2006 ke Jambi, 2010 naik pesawat untuk tampil di Bali, dan yang ketiga di tahun 2011 ke Canada, ga nyangka yah. Tapi kita ga akan ke Canada, kita hari ini baru aja nginjek lagi tanah kita, tempat kita bikin lagu dan berkarya Ki, tanah ini yang bikin kita bisa ke Negara orang buat manggung, dan cukup sudah tugas kita, bawa nama Indonesia di Festival Alternative Internasional”.
Muhammad Padji sebagai Director Promoter Heaven Records, sebagai penyelenggara Planetrox untuk Indonesia, memberi pesan pada eski: “Heaven Records akan kembali mengadakan Planetrox Indonesia di tahun 2012, dan kembali band Indonesia memiliki kesempatan untuk memenangkan ticket ke Canada untuk tampil di Envol et macadam Festival tahun 2012”, ya Akhirnya saluran bagi band Asia di buka dalam pagelaran Envol Et Macadam Festival edisi ke 16 ini, Cupumanik menjadi wakil pertama dari Indonesia, Belakangan Panitia baru merilis berita, bahwa 3 hari rangkaian Festival Envol Et Macadam di Quebec City Kanada berlangsung sukses, lebih dari 18.000 crowds mendatangi festival Alternative Internasional ini.
SEKIAN PEMIRSA, TULISAN INI ADALAH HUTANG KAMI PADA WARGA CUPUMANIAK DI FB, DI TWITTER, DI KEHIDUPAN NYATA, TULISAN INI SEMACAM TANDA TERIMAKASIH KAMI, KARENA KEPERGIAN CUPUMANIK KE FESTIVAL BESAR INI KARENA DUKUNGAN KALIAN. SEKALI LAG TERIMAKASIH SUDAH MENJADI BAGIAN DARI CUPUMANIK, MENJADI BAGIAN YANG BERPERAN MEMBERANGKATKAN KAMI KE FESTIVAL INTERNASIONAL INI. KEEP GRUNGY.
Orang-Orang yang layak mendapat ucapan TERIMAKASIH BESAR dari kami atas pencapaian ini adl: KELUARGA KAMI, CUPUMANIAK, KLAB NGOBROL ISI, Manager kami REZA, EKO HC Ex Manager CUPUMANIK, Dikie ROCKMEN Ex manager kami dan terakhir semua orang di luar sana yg kami tak bisa sebutkan namanya, tapi sudah mengapresiasi karya CUPUMANIK dan mendukung perjalanan nya sampai detik ini. Foto-Foto perjalanan dan Video saat kami di Kanada akan di posting setelah ini. Videonya akan di rangkum menjadi video clip dengan latar lagu AKSARA ALAM yang akan di rilis tahun ini. SALAM BERIBU DAMAI.
NB : FOTO FOTO CUPUMANIK DI CANADA
(tulisan kami comot dari status che di fb)



